Wednesday, June 20, 2012

Tokoh Wayang : Dewi Kunti

Dewi Kunti dikenal sebagai ibu para Pandawa. Ketika bayi, Kunti diberi nama Perta oleh ayahnya yaitu Raja Surasena. Dewi Kunti memiliki seorang kakak lelaki yang bernama Basudewa yang merupakan ayah dari Kresna. Lalu Raja Kuntiboja (saudara sepupu Surasena) karena tidak memiliki keturunan mengadopsi Perta. Dan sejak diadopsi oleh Raja Kuntiboja, nama Perta diganti menjadi Kunti.

Sebelum menikah dengan Pandu, Kunti memiliki seorang putra pemberian dari seorang dewa yang dipanggil oleh Kunti karena Kunti memiliki mantra sakti pemberian dari Resi Durwasa. Mantra ini bernama Adityahredaya yang dapat memanggil dewa-dewi. Dan ketika Kunti mencoba mantra ini sambil memandang matahari terbit, maka dewa Surya langsung datang kepada Kunti sehingga Kunti kaget dan menyuruh dewa Surya untuk kembali. Namun, dewa Surya menyuruh Kunti untuk membuat keinginan apa saja sebelum ia kembali. Kunti tetap tidak menginginkan apa-apa, maka dewa Surya menjadikan Kunti mengandung. Setelah melahirkan, dewa Surya mengembalikan keperawanan Kunti dan lalu kembali ke kahyangan.


Anak itu diberi nama Karna dan karena Kunti tidak menginginkan anak, maka anak tersebut dihanyutkan ke sungai Aswa diberi ciri pakaian perang lengkap, anting-anting dan kalung pemberian dewa Surya. Anak ini ditemukan oleh Adirat, seorang kusir keraton Hastinapura. Selanjutnya anak itu oleh Adirat diberi nama Basusena.

Arti kata Karna adalah "telinga" dan ada juga arti "mahir atau terampil" dalam bahasa sansekerta.

Selanjutnya Kunti menikah dengan raja Hastinapura yaitu Pandu setelah Pandu memenangkan sayembara Prabu Kuntiboja. Pandu lalu menikahi Madri, adik dari Salya dari Kerajaan Madra. Salya kalah tanding dengan Pandu, maka memberikan adiknya itu kepada Pandu. Dan karena Pandu menanggung kutukan bahwa ia akan meninggal bila berhubungan suami istri, maka Pandu tidak memiliki keturunan dari kedua istrinya tersebut.

Akhirnya Pandu dan kedua istrinya meninggalkan kerajaan Hastinapura menuju hutan dan bertapa. Di hutan ini Kunti kembali menggunakan matra yang ia miliki untuk memanggil dewa dan dewi. Kunti memanggil Dewa Yama, Bayu, dan Indra maka ia memiliki tiga putera yaitu Yudistira, Bima, dan Arjuna.

Kunti juga membantu Madri memanggil Dewa Aswin, maka Madri memiliki putera kembar bernama Nakula dan Sadewa. Kisah sedih terjadi pada Madri adalah ketika ia berhubungan suami istri dengan Pandu yang mengakibatkan Pandu meninggal dunia karena kutukan yang ada pada Pandu. Dan sebelum Madri menceburkan diri pada api kremasi untuk menyusul suaminya yaitu Pandu, Madri menitipkan anak kembarnya kepada Kunti agar menganggap Nakula dan Sadewa seperti anak sendiri.

Versi lainnya, Madri mengidam naik Lembu Nandini, wahana Batara Guru. Pandu mohon pada Batara Guru dengan syarat rela berumur pendek dan masuk neraka. Permohonan Pandu dikabul oleh Batara Guru lalu Madri melahirkan bayi kembar bernama Nakula dan Sadewa.

Pandu memiliki kakak tiri dari ibu yang berbeda yaitu Dretarastra yang buta sejak dilahirkan. Dretarastra beristrikan Gandari, puteri Subala, Raja Gandhara yang melahirkan seratus putera yang dikenal dengan nama Korawa yang dalam bahasa Sanskerta artinya "keturunan (raja)" dan ini sudah diramalkan oleh seorang resi sakti bernama Byasa. Maka ketika proses kelahiran korawa adalah dari sebongkah daging. Dibelah daging itu oleh Byasa menjadi seratus potong lalu dimasukkan ke dalam guci dan dikubur selama setahun. Dan setelah setahun digali maka dari setiap daging tersebut tumbuh masing-masing seorang anak lelaki yang semuanya berjumlah seratus.

Disamping seratus anak lelaki, Gandari memiliki seorang anak perempuan bernama Dursala. Dursala bersuamikan Jayadrata raja Kerajaan Sindhu dan Kerajaan Sauwira dan memiliki anak bernama Suratha.

Sumber Gambar : Wikipedia

3 comments:

  1. wah keren juga nih blog yang mengulas tentang wayang sobat...

    ReplyDelete
  2. bertahan kang.. ungkap semua budaya kita. tetap semangat :)

    ReplyDelete
  3. Hey! Happy Wednesday friend! :D Thanks for the visit! Be back soon! :D :D :D

    ReplyDelete